Sindoro, bersahabat dengan hujan

Susah sekali mencari kenikmatan dalam kedinginan dan kelelahan. Tapi aku selalu menemukan dan merindukannya. Dibalik dingin dan lelah itu ada kehangatan dari kebersamaan dan kedamaian oleh naungan liarnya alam. Aku mengaguminya.

Friday 25th December 2009, 02:45pm

the supermen

Keberangkatan kami dari basecamp Kledung ditemani oleh hujan sampai pos II. Bukan rintik-rintik, melainkan cukup deras. Mau tidak mau kami harus berkostum Superman, Batman, P-man, siluman rubah atau apalah. Aku sempat menggerutu dan tidak percaya, kenapa hujan harus mengganggu perjalan ini, memperlambat perjalanan ini. Jalan jadi licin, pemandangan alam yang seharusnya indah menjadi tak jelas, dan tentu saja baju jadi basah, dingin. Tapi lama-lama aku menikmatinya. Jalan licin menjadi tantangan, gemericik air dan kabut membuat suasana sacral, dinginnya air menguatkan langkah kami. Ternyata segala sesuatu harus diikhlaskan, dan disitulah akan ditemukan kenikmatan.

Pos II sudah teraih. Hujan mulai reda.

Original Sountrack Pos II Sindoro, by Ipank:

Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa dibeli

Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Melawan keterbatasan
Walau sedikit kemungkinan
Takkan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi

*dan kami takkan menyerah untuk hadapi perjalan ini. Pos III menunggu.

Friday 25th December 2009, 06:45pm

hihi,,rupane..

Alhamdulillah. Tuhan telah menyiapkan tanah lapang dan langit terang di Pos III. Dome itu telah menghangatkan kami. Mie instan dan kopi itu telah mencairkan dingin kami. Growol, ketupat, dan srundeng itu telah mengganjal kekosongan perut kami. Tisu, hanggar, dan trend homo 2009 itu telah menjadi topik panas ‘mereka’ sepanjang malam itu. Sindoro membuai kami dalam damai.. Terlelap.

Saturday, 26th December 2009, 06:00am

cerah (sumbing dari sindoro)

Prakiraan cuaca menyatakan bahwa pagi ini langit sindoro cerah berawan. Para pendaki disarankan untuk segera melanjutkan misi. Aha! Tak banyak yang bisa aku katakan, selain jalurnya yang ngetrack 90 derajat lah (malay lebay). Nendang banget. Lelah itu biasa, tapi tak akan pernah ada kata menyerah. Sungguh aku tak mau mengulang tragedi ‘merbabu menipu’ beberapa bulan yang lalu. Dan…….. Over there! That’s it! I’ve got here..

Saturday 26th December 2009, 10:00am

Top of Sindoro 3153 mdpl

kae jenenge kawah mati

kae jenenge kawah mati

Fufhhh, aku tak bisa menyembunyikan kekagumanku atas semua ini. Ciptaannya. Langit Sindoro masih cerah, walau awan itu masih bersarang di sana. Bebatuan dan tumbuhan khas puncak membuatku merasa sedang berada di puncak (piye to). Genangan air di kawah mati itu telah membentuk sebuah danau yang indah. Membuatku berkhayal tentang Ranu Kumbolo. Kelak, mungkin aku akan sampai sana.

masak mi neng puncak sindoro

Sesekali kabut datang, membuatku serasa menginjak awan. Dinginnya menusuk, membuat mi instan sarimi ayambawang + sarimi soto ayam + mi sedap goreng terasa amat sangat lezat dan menghangatkan. Hm, aku menyukai ini, I like this..much. Perjuangan itu tak pernah ada yang sia-sia. Itu pasti. Semuanya terbayar….

with STR adventure team

Kuingat, seorang temanku bertanya, “Senang gak bisa sampe puncak?”

Aku, “Hmmm…” (tak perlu kujawab,batinku. Senyumku sudah mewakili semuanya)

Dia berkata lagi, “Kalau nggak seneng sampai puncak, kemaren nggak usah ikut ndaki”.

Hehe,,retoris sekali pertanyaannya..

Saturday 26th December 2009, 12:15pm-07:45pm

Perjalanan turun gunung shift kami sangat santai. Cukuplah untuk mengingat detail-detail bentuk batu, pepohonan, dan buah-buahan di sepanjang perjalanan. Disitu aku membantu sang mahasiswa pencinta alam untuk bersih gunung, sekedar membawakan beberapa botol plastic air mineral 600ml dan 1,5l sampai kaki gunung. Sungguh mulia anak ini ( :p ). Sempat juga mencicipi kecutnya murbei yang direkomendasikan oleh seorang mahasiswa konservasi sumberdaya hutan. Dan ternyata Sindoro tak mau melepas kami dalam keadaan kering. Hujan telah mengantarkan kepulangan kami. Rintik-rintik. Bersahabat dengan hujan,, terimakasih.

Sampai sini sajalah.. Tak mau banyak bercerita.

For the memory, for the laugh, for the togetherness, for the journey, for the all unforgettable things, I’d like to say thanks a bunch to all my dearest pals: the seneros of starcrusher adventure team (eko, weje, purbo, nanung, mas embut, tyas), my sister sitta, my fellows (sule, burhan, arik, temen burhan, nyayu).

And nice to meet you all, the mountaineers from all over the world (the kompas, the bulus club, and all).

them

I’m not gonna teach your girlfriend how to dance with you

I’m not gonna teach your girlfriend how to dance with you..

Everyman for himself

Once we were in our golden age. The time when we were so proud of ourselves, the time when we put our togetherness among all, the time when we had so many dreams and agendas to be realized. The time when we enjoyed our togetherness…very much..

At that time, I dreamt to write a novel about us. I really wanted to write such an imaginary story about our adventure. In the story to be, I imagined that there’s something or even many things ruin our togetherness that we are separated, for a moment. Only for a moment.  And then as we were born to live together and as we feel comfort when we are together; so we can be back as we were – live in togetherness-. That’s it. I would publish the novel then, and it will be the best seller novel of the century. That would be the most tremendous story ever, that would be a legend for  us, I thought.  But till now I have not started to write the story yet.

And I think, the story I have imagined is being realized now, accidentally. Something has ruined our togetherness. This is real. Everyone knows about it but no one confirms it. I didn’t, I don’t mean it to be realized in my real life, but this is what going on now. So many factors lead these all in to the reality. Incredible.  Fyuwh, God has planned it.. Everyman for himself, this is what beyond us now. This is what has messed up everything. May be. And this is not the end.

Well, I have to be sure that everything is going to be as it was.  I’m sure that this is only a part of the story that has a happy ending then, though friendship lasts forever.

Hark, hark, hark..

One God, One Belief, One Mission.. We’ll be met again, soon..

togetherness

Rest in Peace -MILK-

(15 Feb 2005- 12 Okt 2009) And he’s gone out of my life..

IMG_1805

karena telah ada sesuatu yang menanti

Andai aku sedang teraniaya,,maka aku akan berdoa, “Ya Alloh, kembalikan dia di pangkuanku dalam keadaan hidup”. Aku yakin tuhan akan mengabulkan doa orang teraniaya, atau paling tidak Dia akan memberi pengertian kepadaku.

Andai aku adalah nobita, maka aku akan merengek kepada doraemon untuk mengantarku melewati mesin waktu. Aku akan menemaninya, merawatnya, dan membelainya di detik-detik terakhirnya waktu itu. Maka aku tak akan merasa semenyesal ini.

Andai aku tidak pernah memilikinya, maka aku tak akan merasa kehilangan seperti sekarang ini. Namun lebih baik aku pernah memilikinya dan merasa kehilangan dari pada sama sekali tak merasakan apa-apa.

Andai aku adalah anak kecil, maka aku akan menangis meraung-raung tiga hari tiga malam hanya untuk meratapi dan menyesali kepergiannya. Namun pada kenyataannya aku bukanlah anak kecil lagi. Maka aku hanya akan diam dan mencoba ikhlas.. Mau gimana lagi..

Sesedih-sedihnya aku,, ini adalah yang terbaik untuknya. Seseorang berkata kepadaku, “well, that’s okay.. she’s been suffering from being an old cat rite?”.. Dan, ya, daripada dia hidup menderita, kurang perhatian, dan kesepian, mungkin memang inilah yang terbaik.

new-1

his days

IMG_0162

..and I'll never be forgotten, said he

 

 

Goodbye forever my dearest MILK..

I’ve chosen the absolutely right buddy to spend his life with me..

And Wow,, you’ve given me such unforgettable memories..!!!

MERAPI (menyukai ini)

di sini gunung, di sana juga gunung

dan memanggiLku

(10-11 Oktober 2009)

Ada sebuah kalimat yang akhirnya kutanamkan di diriku, bahwa kematian tidak akan dipercepat dengan mendaki gunung, dan tidak akan diperlambat dengan tidak mendakinya. Kupikir, kenapa tak kumanfaatkan waktu berharga dalam hidupku untuk menikmati dan mensyukuri keindahan ciptaanNya. Lalu datanglah hari itu, hari dimana aku memutuskan untuk menjamah bukit merapi lagi, bersama teman-teman yang bukan itu-itu lagi.

Seperti kecanduan, bau gunung telah menggodaku untuk menjamahnya, menikmatinya, dan selalu merekamnya erat dalam otakku. Bersama 5 sahabat (4 di antaranya adalah sahabat baru kenal dari HANCALA) aku menikmati tanjakan demi tanjakan, sengalan nafas, hembusan angin yang dinginnya lumayan menusuk kulit, dan hangatnya mie instan dibawah lindungan bebatuan.

leren n masak mie sek,

leren n masak mie sek,

Pendakian cukup menegangkan ketika hari sudah gelap dan kabut lumayan tebal. Sinar senter kami tak bisa menembus kabut yang mengelilingi. Tiba-tiba angin berhembus kencang. Dingin yang sangat menusuk. Itulah yang disebut badai (aku baru sadar kalau itu badai keesokan harinya.bodoh). Kami berlindung di sela bebatuan besar sambil mencoba menenangkan diri masing-masing. Aku menyukai saat-saat tegang seperti itu, serasa di film-film.he. Beberapa saat kemudian kabut agak menipis dan kami melanjutkan perjalanan.

God has waken us Up

God has waken us Up

Pasar Bubrah – watu gajah.. Itulah watu yang kita cari untuk tempat ngecamp. Apa daya, medan yang terjal dan cuaca yang tidak cerah telah menuntun kami terlalu jauh. Ah, tak mengapa, toh akhirnya kami malah beberapa langkah lebih dekat dengan puncak. Stop di situ, dan didirikanlah dome ukuran 6 orang. Pas sekali. Setelah menikmati makan malam, aku dan kelima temanku menempatkan diri di dalam dome. Dingin yang agak hangat dan cukup sesak berjentreng2 di dalam dome. Krik krik krik.. Suasana malam dan kelelahan telah menghanyutkan kami dalam damainya tidur di gunung. (baru kali itu melihat orang menanak nasi di gunung..hmmm).

Dini hari kami sudah beres-beres dome dan repacking. Sangat bersemangat untuk mengejar sunrise di merapi. Ahahaii. Tuhan melancarkan jalan kami. Di sana, di atas kawah mati, menghadap ke timur, terlihatlah sinar orange yang sangat indah. Memancar keemasan, membuat tubuh-tubuh pendaki itu seakan terbungkus cahaya orange. Manis sekali.. Aku tak pernah tau bagaimana tuhan menggerakkan dan mengkoordinasikan itu semua (huf.retorik). Yang aku tahu, semuanya sangat sempurna..

the orange has appeared

the orange has appeared

the reborn

the reborn

Di atas sana, sebuah batu menjulang tinggi,,lebih tinggi dari gedung ikm lantai tiga.  Di puncak Garuda itu angin bertiup sangat kencang (katanya), membuatku tak berani memanjatnya (ngelingi urung lulus kuLiah). Walau begitu aku sudah sama sekali tidak sensitive dengan kata ‘puncak’. (syalalala dubidubidammmm).

puncak garuda

puncak garuda

Hmmmmm… Akhirnya aku telah berada di puncakmu, Merapi. Senangnya. Prinsip pendakian yang slalu kupegang; Kenikmatan tak harus dicapai di PUNCAK,, (tapi kalo sampai puncak tentu saja terasa lebih nikmat).ahahayy,

Dan  perjalanan turun gunung terasa lebih ringan, walaupun sebenernya beban di carier dan dp kami tidak berkurang banyak (efek pengiritan air yang sangat). Ah, baru sadar, ternyata gaya orang turun gunung tuh macem-macem: ada gaya ngglondor;  gaya lari dari atas n rem mendadak; gaya lari dari atas n ngerem di pohon; gaya njingkLik2; dan yang paling keren adalah gaya ngguLung2 n ngerem pake kepaLa,, dahysyaatt (masih penasaran, darimana ‘mas itu’ belajar gaya itu..)

-fin-

Thanks God.. (besok kemana lagi ya???)

we DID it (potografer e bLum profesionaL)

we DID it (potografer e bLum profesionaL)

Supported by mas Hari, mas Apit, Sigit, Mba Nupus, Arik, Siwi

Tiner vs Spritus

Minggu terakhir KKN-PPL digunakan untuk beres-beres program fisik yg keteteran. Walhasill,, dalam seminggu dikebut program tamanisasi, mberesi tempat parkir, dan ngecat lapangan basket.

tidak akademis...

tidak akademis...

Sore ini tadi anak-anak mulai ngecat lapangan basket dengan warna IJO.. Emang IJO, asiknya rame-rame. Sayangnya yang berangkat ngecat orangnya cuma itu-itu aja , 5 mhasiswa, tmbah bonut & pak udin. Tapi lumayanlah, banyak hal yang menghibur.

Hiburan pertama adalah peristiwa hilangnya handphone Bendahara 1, atasan ku, Fariz. Sesampainya aku di lokasi KKN, om fariz langsung nyomot HPku bwt misscall nomornya. Hasil: nggak aktiv. Tak menyerah, dia nyari keliling sekolah, keliling pohon, keliling-keliling,, tetep aja nggak ketemuu. Sok termenung dan sedih, dan hampir mau menerima kehilangan itu.

Pak Udin (penjaga skolah) berkata: “Kui gara-gara kowe nggodani bocah mau awan. Di eling2, iki pasarane Wage. Dadi nek pas Wage kowe ojo nggodani cewek,, ndak ketiban sial. Tenan iki..”

Hihi,,sok serius pak Udin e, padahal oraono sing percoyo. Dan memang tak bisa dipercaya, karena satu jam kemudian ketika fariz tak sengaja jalan-jalan di halaman, terlihatlah seonggok hape berserta batrenya nyungsep di tanah, dibawah pohon. Jingkrak2lah dia,, terlalu senang atas kembalinya si hape hilang.. Fyuhh,, kesimpulannya, wage-wage tetep boleh nggodani cewek.

Hiburan kedua..

KKN (Kelompok Kerja Ngecat)

KKN (Kelompok Kerja Ngecat)

Gadis-gadis perkasa (hida & siwi) mengambil cat serta ‘tiner’ di pos satpam. Dengan penuh percaya diri, dua gadis itu membuat adonan cat; Cat IJO sedikit + ‘tiner’ secukupnya. Aduk-aduk sampai bercampur bersatu. Tapi kok cat n tinnernya gak mau nyampur juga ya? Jawaban Hida adalah: Kui ki tiner paling murah, maklum.. (N.B ‘tiner’ e ki rupane putih bening, diwadahi botol A*ua, mirip banget karo aer putih).

Yaudah, menyadari bahwa itu tiner murahan, kita menerima kenyataan bahwa ngecatnya agak rekoso rapenak. Pas ‘tiner’nya mau habis, Pak Udin mau memanfaatkan sisa ‘tiner’ nya untuk bersihin tangannya yang blepotan cat.

Tapi tiba-tiba dia berkata, “Weh, kok ‘tiner’e rasane anyes. Iki udu tiner iki.. Nek tiner ki panas. Iki kok anyes. Wah, iki pertus.. Iki pertus.. Mulane cat e ora nyampur. Wah, sopo ki sing tuku? Hida mesti.. Walah hida ki..begoo.. Iki pertus, udu tiner.. Iki ora iso nggo ngresiki tangan. Wooo…” (*pertus= spritus)

Kemudian semua orang melihat, mencium, dan mencoba. Owalah, emang ternyata itu PERTUS, bukan tiner. Kwakakakaka… BODOH..!! Langsung pada ngakak,, menertawakan kebodohan bersama. Hampir seperempat lapangan dicat dengan campuran pertus walspritus.. Fewwwhh. Habis itu, sebagai pengganti tiner, kita beli bensin.. Ngecer, boleh beli bensin Rp3.000. Lucu.. (di perempatan ndayakan itu lhoo)

Pak Udin masih menambahkan, “Nek tiner ki kalengan. Tekan kapanpun tiner ki le tuku kalengan, ora plastikan.. Hida ki..”.. Hu,,gak bosen2nya beliau ngungkit2 kalimat itu sambil tertawa sendirian.hii

Uhh.. Ternyata hari udah sore. Dah mau buka. Berbukalah mereka di Bakso prapatan pasar. Cukuplah kegiatan sore ini untuk nambal luka di siang tadi. Ada yang bener-bener bikin emosi siang tadii. Siang tadii.. Tapi sudahlah.

Jaga BicaraKu..

ati-ati siw,

ati-ati siw,

Memang bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh pesan-pesan suci. Kenapa begitu? Beginilah ceritanya..

Di malam pertama bulan Ramadhan kemaren Andi nyebar sms ke aku n temen2 laen. Isinya:

* Mari berLomba-Lomba mencari berkah dan amaL di buLan Ramadhan tahun ini. Selamat menyambut datangnya buLan Ramadhan. SegaLa khiLaf mohon dimaafkan.*

Keesokan paginya, aku log in di facebook. Temenku, si Bona, yang juga temennya Andi baru saja update status.

Bona Rongrong * Mari berLomba-Lomba mencari berkah dan amaL di buLan Ramadhan tahun ini. Selamat menyambut datangnya buLan Ramadhan. SegaLa khiLaf mohon dimaafkan.*

Menyadari kalo update-an status si Bona tuh sama persis kayak sms yang dikirim Andi, aku iseng-iseng langsung komentar, ada si Charlie juga yg ikut berkomentar. (iseng dalam konteks bercanda)

Comment

Aku: 
itu kan sms dari Andi,,
August 21 at 9:37am
 
Charlie:
oiya deh tu sms dari andi gw lupa kekeke
buset ketauan nyontek lu hahahahha
August 21 at 9:38am
 
Bona: 
Wkwkwkwk t andi mlah nyontek dr gw. . . .
August 21 at 9:40am
 
Aku: 
bona tukang nyontek.. (sambil nunjuk2 bona)
bona tukang nyontek.. (sambil dinyanyikan)
August 21 at 9:45am ·
 
Bona: 
Mnyontek dmi kbaikan it gk b’dosa, tp mengolok2 orang it yg m’buat dosa. . . . Mank th ap yg buat t Budi? Kgak kn! Ampuni lh dosa tmen2ku yg ALLAH, mreka tk th ap yg mreka ktakn, buklah pint hti mreka. Amin . . .
 August 21 at 9:48am
Udah, selesai sampe situ saja ejek2an ku. Apakah aku keterlaluan ngejeknya? Mungkin. Tapi waktu itu sama sekali aku tak merasa menyakiti dan mendolimi siapapun karena memang niatku bercanda (bercanda yang keterlaluankah?). Dan beberapa hari kemudian, aku terlibat debat sengit sama si Bona.
 
BONA: Iya siw, aku pengen marah soal komentar di fesbug kemaren.
AKU: yang mana? yang status nyontek dari sms Andi?
BONA: iya. itu orang luar bisa tau lho..
AKU: tau apa?
BONA: mereka bisa menganggap aku yang jelek2,, tukang nyontek.
AKU: lah, aku kan bercanda. kamu kok mikirnya sampe situ? kalo aku biasa bcanda kyak gitu..
BONA: kalo orang indonesia wajar njiplak kayak gitu. tapi kalo orang luar? aku gak mau dibilang plagiator.
AKU: kan banyak tuh orang yang update status pake lirik lagu,,yang laen juga komen2nya kayak aku. ga masalah kan?
BONA: beda, mereka komennya biasanya nerusin lirik lagunya. tapi kamu? kamu scr langsung menghina. aku merasa terhina..
AKU: hah.. merasa terhina? ya maaf Bon, maksudku bercanda. aku gak tau kalo kmu simpan dlm hati.
BONA: itu  buatmu bercanda, tapi buatku enggak. makanya aku juga nanya kamu waktu itu, “emang kmu tau kalo yang nyiptain ucapan di sms itu adalah Andi?”.. Enggak kan?
AKU: yaudah,,maaf..maaf.. Hffhh,, berarti kalo ngomong sama kamu harus hati-hati ya Bon?
BONA: ya,,mungkin..
AKU: padahal aku kan orangnya ceplas-ceplos.. ah, gak jadi tak ajak naek gunung kamu Bon..
BONA: ??
 (pokonya aku masih inget jelas banget, muka si Bona bener-bener serius dan menerawang jauh. dan aku masih dengan muka bloon)
Yah, kira-kira seperti itulah. Aku beneran tak menyangka kalo disela-sela gurauanku ada seseorang yang hatinya tercabik cabik dan teremas berkeping-keping. Sama sekali gak nyadar sampe dia ngomong sendiri. Ya Tuhan, aku ini keterlaluan ya?? Bisa-bisa sudah ada beribu orang yang hatinya tersakiti karena perkataanku.. Aku kalo ngomong emang kayak gini, dan sejauh ini kurasa smw enjoy aja.. Tapi.. Hmm,,inilah pesan suci di bulan ramadhan. Jaga Bicaramu.. Maaf buat semuanya..
 
(*semua nama dalam kisah ini telah disamarkan untuk menjaga privasi. buwat yang merasa, boleh berkomentar)
 

Sst.. Listen to me

Huwaa…

Finally I post something (again) here! After almost 2 months leaving this site, I feel so exited to share what i’ve felt, done, and experienced.. Here we go!!

Oh Gosh!! The KKN-PPL is just such killing me softly with it’s members and environment. How come? The moment  i had been waiting so long has trapped me in an odd and cruel world. Why can’t I just enjoy it with all of it’s properties (properties? hehe). But, I force myself to believe that there is a very valuable lesson behind this moment. What i need now are patience, still patience, one more patience, and still patience.

My PPL? Yea, it’s better to talk bot the PPL only. I enjoy the time i’ve spent with the students in the class. They are such the light when it’s dark (hwah?). Hmm they’re my spirit to face my days there. Hufh, still lebay!! In this point I just wanna say that i love teaching them, i love spending my time to transfer my knowledge to them. And i will always remember what my supervisor has said “teaching is an art”, meaning that i’m an actor. It’s about how to face students with their different characters. It’s about managing my behavior. It’s about controlling my emotion. It’s about being a person with his duty..

And.. What about rangers? I really really miss them all (sak kandang2e). I miss hanging out and laughing out with them. Hufhh.. My days are boring without them. I’ve tried to pretend that everything is alright but why can’t I find such happines in this new world? Do I put a very high standard of friendship or what? haha, nonsense!

Well, I’m speaking with myself, saying that  I want to start the next day with a full smile and hope. I can’t just wait for the end of this moment coz it is the life of mine right now. It’s me who decides what is the end like. Guys,, look at that! A chart of sense of belonging, responsibility, ability, and mission! Let’s pick them all and patch them on our own head!! Remember, we are a team!!

And, this  is dedicated to all rangers, please..

Selamanya

 

like this

like this

 

memelukmu seperti ini tak ingin kulepaskan
walau sedetik saja tak akan pernah
selamanya kau berada dalam hatiku
selamanya kau tak akan pernah terganti
menatapmu sedekat ini tak ingin ku berpaling
walau sesaat saja tak akan pernah
selamanya kau berada dalam hatiku
selamanya kau tak akan pernah terganti
memilikimu sepenuhnya hanya untuk diriku
bagai keajaiban yang tak ternilai

(utopia)

Merbabu Menipu

itulah yang disebut 'masal'

itulah yang disebut 'masal'

Sabtu 27 Juni 2009. Kali ini aku ikut penmas PASMAJA nggak pake YA, tim pecinta alam dari SMA Karangnom (SMA ne ranger putih). Sekitar 30an orang berpartisipasi dalam pendakian itu.

Menit demi menit mulai kukenali alam Merbabu beserta teman-teman pendaki. Dinginpun sudah menjadi teman. Baru beberapa menit berjalan, tracknya udah lumayan nendang. Kiri kanan ada bulak senthe. Dalam dingin dan gelap Merbabu, sinar-sinar senter para pendaki menjadi pemandangan yang sangat isthegud. Panjang dan berkelip-kelip. Deretan pemegang senter itu akan berteriak ‘PASMAJA’ ketika kamu menyapanya ‘Hello Geng’. Dan satu hal lagi; dalam pendakian masal kali ini tertawa adalah tabu. Kenapa? Karena tertawa diterjemahkan sebagai indikator sumber bau kentut. Siapa yang tertawa dialah yang kentut. Maka lebih baik kentunya diperdendangkan saja daripada menjadi kisruh pencarian sumber suara..

Melelahkan. Bagaimana tidak? Inilah resiko menjadi sweeper sapu sapu di belakang. Dua langkah –break-, satu langkah lagi –break-, tiga langkah –break-. Hyaahhh.. Kumanan buntut.

Ketika jalan sedang ngetrack ngetracknya dan jarak antar pendaki tak sampai satu jengkal (luebai), tiba tiba terdengar suara ‘BREAK!’. Ternyata itu adalah break yang sangat lama (kurang lebih dari pukul 02.00 sampai 06.00 dini hari). Siasia pula kita bawa sb dan dome. Tidurnya aja di kali asat tak beralaskan apapun, nggogok pula. Lebih parah dari pendakian Merbabu bareng STR jaya yang walaupun tanpa sb dan dome, tapi ada api unggunnya. Andai saja perjalanan dilanjutkan satu jam lagi, bakal dapet tempat yang enak buwat ngedome.

kusambut pagi dengan senyum penuh semangat

kusambut pagi dengan senyum penuh semangat

Pagi memanggil.. Seseorang, sebut saja sang motivator mulai berkokok. Kukuruyuukkkk.. Semangat!! Let’s move move move.. Pagi itu aku sangat bersemangat untuk meraih Kentheng Songo. Di sanalah aku akan menghabiskan batre kamera yang sedari tadi kuirit.

Terlihat beberapa pendaki yang giving up. Aku tetep bersemangat. Nggak peduli. Katanya tinggal melewati satu bukit, satu bukit sabana, trus satu bukit lagi, maka akan tercapailah the top of Merbabu. Oke deh, gak masalah..

endi puncake?

endi puncake?

Kutegaskan kembali, kita adalah tim SweePer yang selalu datang belakangan. Maklum dong kalau kita berpapasan dengan para pendaki yang udah turun gunung. Hehe.

“ Berapa menit lagi ya kita sampai puncak?”.

Jawabannya bervariasi 1)“Satu jam untuk cewek, setengah jam untuk cowok”, 2)“Wah, masih dua jam”, 3)”Turun aja, di atas nggak ada apa-apa kok”.

Hoho, sak karepmu..sing penting teko mlaku wae..

Lah, tapi kok nggak nyampe-nyampe yo? Terlalu banyak puncak bayangan. Merbabu menipu. Ternyata masih harus melewati bukit lagi. Walah, membuat kita berfikir bahwa Puncak Merbabu itu portable removable bisa pindah sewaktu-waktu kemana saja. Mungkin saat itu puncaknya sedang tak berada di tempat. Dan muncullah pertanyaan retoris dari setiap kepala, iki ki ndaki opo ndagel?? Huwaaa..kandungan oksigen yang menipis membuat otak tak bisa berfikir jernih (hew).

makan mie dalam kegusaran..

makan mie dalam kegusaran..

Aw aw aw.. Akhirnya sang motivator nyerah. Di bawah pohon dia menurunkan carriernya seraya berucap “Tenan, aku wes marem iso tekan kene. Nek arep do munggah ra popo, tapi aku tekan kene wae”. Padahal dialah yang selalu berjalan (malah berlari) paling semangat sambil melontarkan dagelan khas merbabu sebagai pembakar semangat. Hhmm,,cukup meluluhkan dan menggoyahkan tekadku untuk terus naik, tak tahu dengan ranger putih.

Let’s review. Pendakian dimulai pukul 10 malem. Sekarang udah pukul 10 pagi. Berarti sudah melewati 12 jam perjalanan. Kira-kira kita berada di 3115 mdpl, sedangkan puncaknya 3142 mdpl. Sudah terlihat jelas di atas sana puncak yang ngaweawe. Nanggung tenan.

are you the peek? (no i'm not)

are you the peek? (no i'm not)

Mengingat semua itu, sebenarnya aku masih ingin melanjutkan perjalanan. Kelanjutannya? Ada kesepakatan samar-samar bahwa setelah istirahat dan masak mie, perjalanan akan dilanjutkan. Tapi pada kenyataannya kita turun gunung karenan satu dan lain hal yang tak usah dijabarkan. (solidaritaskah?) He.

menuruni gunung..byee....

see you next time..

Perjalanan turun lumayan cepet coz kita melewati jalur yang bener (n.b. jalur ndakinya salah). Inilah yang juga kunanti dari pendakian gunung; perjalanan turun gunung. Selain perjalanan terasa lebih cepat, banyak cerita yang terurai disetiap menitnya dan rasa lelah pun sama sekali tak terasa.

apus apus

apus apus

-kenikmatan tak harus dicapai di puncak-

(jangan sebut2 kata ‘puncak’. sensitif aku..)

-kode etik pencinta alam nomor 7-

Thanks to all

the sweeper

the sweeper

hitam

Oh jiwaku…
Dimanakah aku kini
Kau bawa aku melintasi tempat yang tinggi
Oh tubuhku…
Mengapa angkau kini masih membisu,
tak kunjung bebicara padaku…

ceritakanlah padaku,
apa yang mengeruhkan
hati dan jiwaku
Tolonglah…
Kau tuntunkan aku lagi…
Agar ragaku menyatu bersama isi jiwaku

Penuntun jiwaku…
Luruskan hatiku…
Seandainya aku tahu apa yang akan terjadi nanti

Aku masih melayang, bersandingkan langit hitam…
Masih melayang
Terus melayang

Ceritakanlah padaku,
apa yang mengeruhkan hidup dan jiwaku…
Tolonglah…
Kau tuntun aku lagi…
Kau tutunkan aku lagi…
Agar ragaku menyatu bersama isi jiwaku

Tak perlu kutangangisi
Kupasrahkan sekuat hati
saat jiwa terlepas…
Saat jiwa terlepas…

-padi-