Susah sekali mencari kenikmatan dalam kedinginan dan kelelahan. Tapi aku selalu menemukan dan merindukannya. Dibalik dingin dan lelah itu ada kehangatan dari kebersamaan dan kedamaian oleh naungan liarnya alam. Aku mengaguminya.
Friday 25th December 2009, 02:45pm
Keberangkatan kami dari basecamp Kledung ditemani oleh hujan sampai pos II. Bukan rintik-rintik, melainkan cukup deras. Mau tidak mau kami harus berkostum Superman, Batman, P-man, siluman rubah atau apalah. Aku sempat menggerutu dan tidak percaya, kenapa hujan harus mengganggu perjalan ini, memperlambat perjalanan ini. Jalan jadi licin, pemandangan alam yang seharusnya indah menjadi tak jelas, dan tentu saja baju jadi basah, dingin. Tapi lama-lama aku menikmatinya. Jalan licin menjadi tantangan, gemericik air dan kabut membuat suasana sacral, dinginnya air menguatkan langkah kami. Ternyata segala sesuatu harus diikhlaskan, dan disitulah akan ditemukan kenikmatan.
Pos II sudah teraih. Hujan mulai reda.
Original Sountrack Pos II Sindoro, by Ipank:
Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangiTak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa dibeliBersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinyaMelawan keterbatasan
Walau sedikit kemungkinan
Takkan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi
*dan kami takkan menyerah untuk hadapi perjalan ini. Pos III menunggu.
Friday 25th December 2009, 06:45pm
Alhamdulillah. Tuhan telah menyiapkan tanah lapang dan langit terang di Pos III. Dome itu telah menghangatkan kami. Mie instan dan kopi itu telah mencairkan dingin kami. Growol, ketupat, dan srundeng itu telah mengganjal kekosongan perut kami. Tisu, hanggar, dan trend homo 2009 itu telah menjadi topik panas ‘mereka’ sepanjang malam itu. Sindoro membuai kami dalam damai.. Terlelap.
Saturday, 26th December 2009, 06:00am
Prakiraan cuaca menyatakan bahwa pagi ini langit sindoro cerah berawan. Para pendaki disarankan untuk segera melanjutkan misi. Aha! Tak banyak yang bisa aku katakan, selain jalurnya yang ngetrack 90 derajat lah (malay lebay). Nendang banget. Lelah itu biasa, tapi tak akan pernah ada kata menyerah. Sungguh aku tak mau mengulang tragedi ‘merbabu menipu’ beberapa bulan yang lalu. Dan…….. Over there! That’s it! I’ve got here..
Saturday 26th December 2009, 10:00am
Top of Sindoro 3153 mdpl
Fufhhh, aku tak bisa menyembunyikan kekagumanku atas semua ini. Ciptaannya. Langit Sindoro masih cerah, walau awan itu masih bersarang di sana. Bebatuan dan tumbuhan khas puncak membuatku merasa sedang berada di puncak (piye to). Genangan air di kawah mati itu telah membentuk sebuah danau yang indah. Membuatku berkhayal tentang Ranu Kumbolo. Kelak, mungkin aku akan sampai sana.
Sesekali kabut datang, membuatku serasa menginjak awan. Dinginnya menusuk, membuat mi instan sarimi ayambawang + sarimi soto ayam + mi sedap goreng terasa amat sangat lezat dan menghangatkan. Hm, aku menyukai ini, I like this..much. Perjuangan itu tak pernah ada yang sia-sia. Itu pasti. Semuanya terbayar….
Kuingat, seorang temanku bertanya, “Senang gak bisa sampe puncak?”
Aku, “Hmmm…” (tak perlu kujawab,batinku. Senyumku sudah mewakili semuanya)
Dia berkata lagi, “Kalau nggak seneng sampai puncak, kemaren nggak usah ikut ndaki”.
Hehe,,retoris sekali pertanyaannya..
Saturday 26th December 2009, 12:15pm-07:45pm
Perjalanan turun gunung shift kami sangat santai. Cukuplah untuk mengingat detail-detail bentuk batu, pepohonan, dan buah-buahan di sepanjang perjalanan. Disitu aku membantu sang mahasiswa pencinta alam untuk bersih gunung, sekedar membawakan beberapa botol plastic air mineral 600ml dan 1,5l sampai kaki gunung. Sungguh mulia anak ini ( :p ). Sempat juga mencicipi kecutnya murbei yang direkomendasikan oleh seorang mahasiswa konservasi sumberdaya hutan. Dan ternyata Sindoro tak mau melepas kami dalam keadaan kering. Hujan telah mengantarkan kepulangan kami. Rintik-rintik. Bersahabat dengan hujan,, terimakasih.
Sampai sini sajalah.. Tak mau banyak bercerita.
For the memory, for the laugh, for the togetherness, for the journey, for the all unforgettable things, I’d like to say thanks a bunch to all my dearest pals: the seneros of starcrusher adventure team (eko, weje, purbo, nanung, mas embut, tyas), my sister sitta, my fellows (sule, burhan, arik, temen burhan, nyayu).
And nice to meet you all, the mountaineers from all over the world (the kompas, the bulus club, and all).































