Internet itu isinya SAMPAH
December 22nd, 2011 § 2 Comments
Masih ada hubungannya sama sekeripsih.
Pagi itu aku menemui Pak Dosen untuk mengambil revisi skripsiku. Sebut saja beliau Pak Melati. -____- Dengan pedenya aku duduk di hadapan Pak Melati seraya berkata, “Maaf Pak, punya saya….”. Baru bilang ‘punya saya’, beliau sudah menjawab, “Iya ini ambil ambil…”. Tapi belum sempat aku menyentuh skripsiku, tiba-tiba beliau berbicara tegas dengan suara lantang dan wajah agak seram (baca:marah).
“Anda ini bagaimana. Kalau saya melingkari satu istilah seperti ini, ini maksudnya Anda harus mengecheck yang lain. Check the rest!! Ini wong jelas-jelas di atasnya ada kesalahan yang sama kok tidak direvisi. Ini maksud Anda apa ini?? Jangan-jangan yang Anda maksud itu bukan ini.. dst dst dst …”
Suaranya begitu lantang menggelegar memenuhi penjuru ruangan kantor jurusan. Rasanya dunia ini hanya milik berdua. Hohh. Rasanya ingin semaput saja. Dan.. Baru sadarlah aku dari ketiduranku. Ternyata ada satu istilah yang kelewatan belum aku revisi,, di halaman pertama pula. Bodoooooohhhhh. Kalau sudah begini, aku tidak bisa mengajukan banding atau membela diri. Adanya cuma berkali-kali bilang “Iya Pak. Saya tidak teliti. Iya Pak. Akan saya perbaiki. Iya Pak. Saya yang salah. Angkat saya jadi anak asuh saja Pak. Pak, saya memang begini adanya, biarlah orang berkata apa. Pak, ampunn.”, berulang-ulang sampai berbusa.
Setelah itu, Pak Melati mulai menurunkan nada suaranya dan bersedia menandatangani lembar pengesahan atau populernya ‘retipikesyen’. Mungkin beliau merasa iba dan kasian kepadaku yang bermuka imut dan menggemaskan ini.
Tetapiiiiiii…. Mala petaka yang kedua baru saja akan kumulai. Ketika Pak Melati sedang menandatangani berlembar-lembar kertas pengesahan, suasana begitu hening. Tak ada kata di antara kita. Sebagai makhluk yang suka bersosialisasi, aku merasa tak nyaman menunggu diam saja. Sekuat tenaga aku mencari topik pembicaraan. Dan akhirnya ketemu! (Tentang kesalahan penggunaan “in term of” yang seharusnya “in terms of”. Kesalahan yang berulang-ulang hampir di seluruh Chapter IV ku). Jadi, aku iseng-iseng memulai pembicaraan dengan Beliau. Siapa tau Beliau jadi senang dan menyesal telah marah-marah kepadaku. Hekeke.
“Hmm, Pak.. Kalau yang “in term of” itu benernya “in terms of” kan Pak? Udah benar berarti..”
Beliau diam. Berhenti tanda tangan. Dan perlahan mengangkat wajahnya. Aku sungguh tak kuasa menanti apa yang akan terjadi.. Kemudian dengan suara beratnya… “Anda ini ngecheck di kamus tidak??!” Suasana memanas lagi. Benar-benar salah dugaanku. Menyesal oh menyesalll….
Aku : “Anu Pak, saya cari-cari di internet…”
Beliau: “Cari itu di kamus, bukan di internet. INTERNET ITU ISINYA SAMPAH!”
Sumpah. Aku baru tau kalau internet itu isinya sampah. Tapi setelah kupikir-pikir, ada benarnya juga, dikitlah. Tengok: frenseter, fesebuk, tuwiter, dll. Sampah bukan? Bukan ya? Yaudah, sungguh ababil Anda (dan saya). Takkan kulupakan kata-kata inspirasional dari beliau ini.
Off to main topic. –> Kemudian beliau memintaku membuka kamus Oxford tebel yang ada di mejanya. Baru mau aku sentuh, eh malah keduluan Beliau. Trus dicariin deh.
.
Beliau: “Yang Anda maksud ‘in term of’ itu kan ‘mengenai’.. Ya Anda check di kamus….”
Aku: “Iya Pak. Saya kemarin liat di Cambridge dictionary, tapi..”
Beliau: “Anda itu jangan menyela. Saya kan belum selesai bicara!” (Kata beliau sambil sibuk membuka kamus, tanpa menatapku barang sembarang. Kemudian aku tercekat merasa tak berharga..hik)
Aku: “Iya Pak, Maaf”.
Beliau: “Nah ini, coba lihat. Jadi saya tidak mengada-ada kan.” (Sambil menunjukkan kamus yang berisi “in terms of”)
Aku: “Oh iya Pak. Benar. Saya juga sempat tanya ke dosen-dosen,, memang “term”nya pakai “s”.
Beliau: “Baguus. Jadi saya itu membaca skripsi Anda itu tanpa tau maksud Anda, tapi pakai ilmu KIRA-KIRA. Kira-kira begini, kira-kira begitu. Soalnya saya ini bukan DUKUN.”
Aku: “Iya Pak. Sudah saya ganti semua kok.”
Beliau: “Bener? Udah diganti semua?”
Aku: “Bener Paaakkk” (sambil sujud-sujud & nangis)
Beliau: “Yaudah kalau begitu”. (Sambil melanjutkan tandatangan yang tertunda)
Aku : (tersenyum gembira). Sudah Pak? Hh, makasih ya Pak.
Beliau: “Ya. Congratulation ya.”
Aku: “Makacieh eaaa Bapak. Cemugudth!” (wkwkwk)
Beliau : “Eaaa. Matama eaa.”
Dan mulai saat itu aku jadi ngefans sama Pak Melati. Dibalik segala keseramannya, diam-diam beliau itu tetep serem. Eh. Pokoknya Beliau itu PINTAR, PROFESIONAL, BERTANGGUNG JAWAB, CINTA ALAM DAN KASIH SSAYANG SESAMA MANUSIA. Pokoknya Mr.Melati is my idol.
Internet itu sumpeh….Ah Bapak e Lebai cing
kowe yo lebaii