Menyayangi kucing seperti ini..
January 25th, 2012 § 2 Comments
Apakah kamu memiliki seekor hewan peliharaan? Seekor saja, karena kalau lebih dari seekor itu namanya maruk. Lantas, bagaimana kamu menyayangi dan menghargai dia sebagai seekor hewan yang istimewa?
Aku punya kucing, dua. Ya, maruk. Mereka adalah Bundel dan Ireng. Dua kata sifat yang menggambarkan penampakan fisik dari kedua kucing penuh cinta itu. Baiklah, kuceritakan salah satu saja.. Mungkin Bundel saja.
Yap. Bundel adalah seekor kucing betina kampung yang hiperaktif. Walaupun begitu, dia cukup manis buatku. Matanya yang besar, hidungnya yang kembang kempis, ekornya yang bundel, kakikaki panjangnya yang menjuntai..semuanya terlihat sempurna buatku.
Aku menyayangi si Bundel, betapapun dia sering membuat suara bising di pagi hari dan mengotori jok motorku. Rasanya sangat menyenangkan saat aku bisa berbagi makanan dengan dia, berbagi kursi dengan dia, berbagi tawa dengan dia. Apalagi saat kurasakan dia tertidur lelap dipangkuanku, hanyut oleh usapan tanganku, rasanya benar-benar seperti melihat malaikat kecil polos yang bodoh tapi sangat lovable. Bagaimana mungkin dengkuran semacam itu bisa membuatku nyaman.
Namun. Bundel seringkali membuatku naik darah. Dia sudah kuperlakukan secara istimewa. Aku selalu mengingatnya, selalu memastikan bahwa dia tidak kelaparan, selalu membelainya, selalu ada untuknya. Tapi, kadang kurasa Bundel sama sekali tidak mengerti tentang semua ini. Apa karena dia seekor kucing? Beberapa kali dia sama sekali tidak nampak di rumah. Kucari kesana kemari di sudut rumah, di halaman, di kebun, tetap saja tak ada. Dia kemana? Sering juga kulihat Bundel bermain di atas teras. Entah bersama kodok, tokek, cicak, atau bahkan kucing jantan..tapi yang jelas Bundel sama sekali tak memperhatikan kehadiranku. Kupanggil-panggil dari bawah supaya dia melihatku dan turun menghampiriku, tapi sama sekali tak ada tanggapan. Begitu ya?
Bundel.. Lalu aku tahu, ternyata kucing pun punya dunianya sendiri. Salah jika kupikir Bundel adalah kucing dungu yang hanya ada untukku. Perlahan aku mengerti bahwa dia punya hak untuk menjalani kehidupannya. Toh, sejauh apapun dia berada, dengan siapapun dia berjalan, pasti dia kembali padaku. Karena di sinilah rumahnya.
Well, love your lover like this.

Mewakili ireng, aku sungguh iri. Kenapa kamu hanya menuliskan bundel, bundel, dan bundel. Tidak sadarkan kamu bahwa kamulah yang menyebabkan hidupku seperti ini?? Ngekkkkk
mewakili bundel: ireng, mba siwi juga nulis tentang wudel kamu lhoo.. http://siwimilk.wordpress.com/2011/12/27/ireng-kitty/