Raihanun

Cerita Menyapih Hanun


Hello, world! Been a while 🙂

WWL. Weaning With Love. Menyapih dengan Cinta.

Bulan Desember 2019 ini Hanun genap berusia 2 tahun. Beberapa bulan sebelum hari ulang tahunnya tiba, aku sudah galau memikirkan cara menyapih bayi pecinta nenen ini. Aku berfikir bahwa menyapih akan menjadi hal yang sangat sulit dan penuh drama karena Hanun sangat tergantung dengan nenen sebagai pengantar tidur, pendamping tidur, penjaga tidur, dan penenang hati di kala sedih nan gusar. Terbersit pula pikiran bahwa ‘kalau Hanun enggak nenen, nanti dia tidak membutuhkanku lagi’. Masa-masa itu sungguh membuatku galau.

Lalu, pada suatu malam, turunlah kabar bahwa ada benih buah hati lain yang tumbuh dalam rahimku ini. Sebuah kenyataan yang cukup mengejutkan, mengharukan, dan menggalaukan. Perasaanku campur aduk. Aku senang, tapi aku gusar. Apakah Hanun tidak apa-apa? Apakah aku bisa? Apakah semua akan baik-baik saja? Ya, semua akan baik-baik saja. Aku dan suamiku sepakat akan hal itu. Tidak ada cinta yang akan terbagi. Cinta kami akan terkalilipatkan untuk para makhluk kecil dari surga ini.

Setelah aku memberi kabar ke beberapa orang terdekat, mulailah muncul berbagai komentar. “Sudah, segera sapih saja. ASI orang hamil itu sudah bukan susu, tapi darah”.  Ada lagi. “Cepat segera disapih. Nanti Hanun malah jadi kurus dan sering sakit”. “Jangan disusui. Susunya rasanya udah nggak enak. Bikin meriang.” Dan lain-lain. Karena kata dokterku, kondisiku dan janin bagus, aku diperbolehkan terus menyusui. Nanti lama-lama rasa ASI akan berubah (persiapan pembentukan kolostrum untuk adek bayi) dan Hanun akan kurang suka dengan sendirinya.

Aku yakin dan aku mantap untuk terus menyusui Hanun sampai usia 2 tahun. Namun, semakin hari kurasakan kuantitas ASI menurun dan puting terasa ngilu setiap kali dinenen, hingga pada suatu malam terjadilah sebuah drama. Hanun nenen lama sekali sampai putingku terasa super ngilu. Tidak kuasa menahan ngilu, aku melepas paksa si puting dari mulut mungil dan gigi tajemnya. Apa yang terjadi? Hanun ngamuk, Hanun marah! Dia menangis sampai kedengeran ke tetangga. Untungnya nggak sampai mecahin piring atau mukulin panci. Nangisnya super kejer dan tidak ada pelampiasan untuk itu. Jadi aku dan suamiku tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggunya tenang dan sesekali mengalihkan perhatiannya. Sesekali saja, karena kalau kami salah ngomong, level marahnya bisa melesat drastis. Akhirnya Hanun lelah dan mau digendong, mau dipeluk, mau diajak lihat hape lalu tertidur wkwk. Sejak kejadian itu, aku berpikir, apakah ini saatnya untuk latihan meninggalkan nenen?

Sebelum aku memutuskan untuk melakukan WWL, aku berbagi kegusaran dengan beberapa orang di sekitarku. Lalu, seperti yang kusangka, aku mendapatkan beberapa tips ekstrim. “Kalau mau disapih, di perguruan bukit sebrang kali ada nyai yang punya ramuan penyetop ngentil”; “Dikasih gincu saja putingnya, pasti Hanun takut dan nggak mau nenen”; “Kalau aku dulu, puting kuoles dengan jeruk nipis, setelah itu anakku nggak mau lagi”; “Mau kucarikan brotowali?”; “Titipkan saja Hanun di rumahku selama beberapa hari biar lupa sama kamu”. Dan lain-lain. Hhh.. Beberapa saran memang umum dilakukan. Namun, beberapa lagi terdengar terlalu kejam. Kutaksangguppp..

Lalu, kuputuskan untuk sok idealis dengan berpedoman bahwa “Nenen adalah pengalaman yang menyenangkan. Jangan sampai Hanun menyelesaikan hal ini dengan kenangan buruk”. Nah, aku mulai membaca pengalaman menyapih para ibu sabar nan cerdas. Mulai bulan Oktober aku sounding ke Hanun tentang penyapihan ini dengan bahasa sesederhana mungkin yang kayaknya masih terdengar rumit di telinganya. Rencananya aku akan melakukan sounding dari bulan Oktober sampai dia berusia 2 tahun. Sekitar 2 bulan. Nah, mulailah aku membuat rutinitas sebelum tidur.

  • Sekitar jam 8 aku mengajak Hanun ke kamar dan mematikan lampu sebagai tanda bahwa ini saatnya tidur.
  • Ritual selanjutnya adalah mengganti popok, memakaikan minyak telon, sambil membaca Alfatihah bersama.
  • Setelah baca Alfatihah dan baca doa, biasanya aku minta dipeluk sambil mengucapkan “I love you”. Dia sangat suka melakukan hal itu.
  • Setelah itu? Ya, kadang Hanun masih jumpalitan dalam kegelapan. Tapi sebisa mungkin kuajak ngobrol dengan wajah berdekatan. Obrolan kami kurang lebih seperti ini:
    • Nun, sekarang sudah bulan Oktober. Setelah Oktober, lalu November, dan Desember. (Setelah diulang setiap malam, dia akan bisa menyebutkan nama 3 bulan itu walaupun -ber -ber nya saja wkwkw. Bisa dilakukan sambil ngitung pakai jari).
    • Nanti di bulan Desember, Hanun sudah dua tahun. (Setelah diulang setiap malam, dia bisa diajak berdialog, e.g. Bulan Desember nanti, Hanun berapa tahun?)
    • Nah, kalau sudah dua tahun, berarti Hanun sudah gede. Kalau sudah gede, berarti sudah tidak nenen. (Di bagian ini, awal-awalnya Hanun pasti nangis atau minimal ngrengek sebagai ekspresi bahwa dia tidak suka kalau harus tidak nenen. Tapi lama-kelamaan dia meneruskan kalimatku dengan bilang “Enggak nenen lagi”. Setelah mengucapkan itu, dia tetep nyari nenen sih. Tapi paling nggak, ada pesan yang dia tangkap.)
    • Eh, Mas Reyhan itu udah gede kan ya, Nun? Masih nenen enggak? (“Enggak”, jawabnya). Nah, Mas Reyhan udah nggak nenen. Kalau mau mimik, bisa mimik susu kotak pake sedotan, air putih pakai botol, trus kalau siang boleh minum yakult pakai sedotan. (Setelah diulang beberapa kali, dia bisa nerusin semacam “Mik susu kotak, mik air putih, mik yakult…”)
    • Oh ya, hari ini Hanun sudah ngapain aja? Sudah pinter apa? (Biasanya dia akan cerita kalau dia pinter minum yakult pake sedotan, pinter baca buku, pinter nonton tivi, pinter nonton baby bus -_- …dll. Di sini aku mengiyakan dan sesekali memberi reaksi yang penuh perhatian.)
  • Setelah ngobrol-ngobrol implisit yang sejatinya merupakan hasutan untuk tidak nenen lagi, biasanya kutawarin apakah dia mau dicritain atau dinyanyiin. Jawabannya beda-beda tiap malem. Kadang kudongengin tentang hewan-hewan kesukaannya. Apesnya tu kalau dia pas belum ngantuk, dia bakalan tanya terus seperti “Kelinci apa? Wortel apa? Enak apa?” dan “apa-apa” yang lain hingga pada akhirnya aku jawab “….kelinci cinun-cinun”. Pun itu dia masih nerusin “Cinun-cinun apa?”. Kalau udah gini, kuganti cerita dengan lagu. Lagunyapun masih sering diprotes. “Hanun kecilku sudah ngantuk, mau bobok bersama ibuk”. Eh diprotes “Enggak, enggak! Mau makan jeruk… “. Lalu kuganti liriknya jadi “Hanun kecilku sudah ngantuk, mau makan jeruknya ibuk”…dst.

Ritual-ritual ini kulakukan setiap malam selama sekitar dua minggu. Pada beberapa malam, dia bilang bahwa “Nenen ibu masih sedikit”. Mungkin maksudnya “tinggal sedikit”, karena memang kurasa kuantitasnya menurun. Lalu kutanggapi, “Oh, iya ya, Nun?”. Dia kadang menjawab, “Iya. Tapi enak”. Lalu kadang dia lanjut nenen, kadang hanya mengecup sebentar. Selama beberapa hari dia melakukan itu hingga lama-kelamaan dia sama sekali tidak ngemut nenen, hanya membicarakannya saja. Kadang juga dia minta memegang dan bilang “Hanun nenen”. Tapi yang dilakukan hanya memasukkan puting ke mulutnya barang satu detik lalu dilepasnya sambil bilang “Udah”. Oh iya, selain bilang bahwa nenen ibu masih dikit, Hanun juga sering bilang bahwa nenen ibu sakit. Ini karena memang si nenen pernah super ngilu saat itu.

Nah, memasuki bulan November, Hanun sudah tidak pernah lagi minta nenen. Sesekali dia mengecup nenen dari luar baju sambil senyum-senyum. Pada scene ini seringnya aku terharu berkaca-kaca dengan perasaan yang tak terungkapkan dengan kata-kata. Lalu kuusap-usap dan kukecup ubun-ubunnya.

Kuanggap penyapihan ini berhasil dengan mulus. Bahkan proses ini berjalan lebih cepat satu bulan, karena targetku sebenarnya adalah bulan Desember. Aku tidak pernah menyangka bahwa Hanun akan memahami pesan-pesan yang kusampaikan secara intens, masif, dan sisetematis itu. Baru benar-benar kusadari bahwa dia sudah bisa kuajak berkomunikasi dengan baik serta mengingat hal-hal yang kusampaikan. Ya Allah, aku terharu.

Itulah perjalanan menyapih Hanun. Menyapih dengan cinta memang butuh kesabaran. Tapi kenangan yang kita berikan adalah kenangan indah di mana si nenen selalu mendapat tempat spesial di hatinya. Tidak ada dendam tidak ada luka. Benar-benar persahabatan yang indah antara nenen dan Hanun. Terimakasih nenen, kamu telah menemani anakku bertumbuh dan berkembang. Tak hanya menemani, bahkan kamu menghidupi. Salam untuk nenen di seluruh dunia!

Uncategorized

Untuk Hanun


Nun, maafkan Ibu belum bisa menjadi ibu yang sabar. Ibu masih belajar. Nun, terima kasih sudah menjadi anak yang baik dan teman yang menyenangkan. Nun, Ibu dan Ayah sangat menyayangimu. Tumbuhlah dengan bahagia. Doa Ibu semoga kamu selalu sehat, ceria, memiliki iman yang kuat, selalu dalam lindungan Tuhan, suka menolong, dikelilingi orang-orang baik, dan bisa menjadi penolong kedua orang tuamu kelak. Belajarlah, berpetualanglah, berbuat baiklah selama kamu hidup di bumi ini. Perbanyaklah amal untuk bekal di akhiratmu. Jadilah embak yang baik untuk adikmu nanti, anak-anak kebanggaan Ibu. Lakukanlah yang kamu suka selama itu baik. Ibu sayang Hanun.

Raihanun

Cerita TumbuhKembang Hanun


Hanun udah bisa apa? Udah jalan? Udah tumbuh gigi? Udah ngoceh? Udah ikut snmptn?

Itulah pertanyaan-pertanyaan perhatian dari saudara, teman dekat, teman jauh, tetangga dekat, tetangga jauh, dan lain-lain. Lalu, harus dijawab seperti apa? Jawablah apa adanya. Yang jelas, pertumbuhan setiap bayi itu berbeda-beda, ya. Selama itu masih normal, gak usah cemas. Normal atau enggaknya tau dari mana? Dari baca-baca tentang tumbuh kembang anak. Iqra’

Itulah paragraf pembuka untuk mengawali tulisan kali ini yang bertema tumbuh kembang Hanun. Sekali lagi, kalau ada ibu bapak muda yang baca ini (kalau ada), jangan membanding-bandingkan, ya. Hanun is Hanun dan Hanun bukanlah dia.

Kapan mulai koloh-koloh (gigit-gigit, masuk-masukin) jari? Mulai umur 2 bulan Hanun udah masuk-masukin jari ke mulut. Hal itu membuatku ge’er karena kukira giginya mau tumbuh. Ternyata itu hanya untuk mengisi waktu luangnya dia aja. Dan kapan kebiasaan itu berakhir? Hanya Tuhan yang tahu, karena sekarangpun (14 bulan) beliau masih suka koloh-koloh walaupun bukan lagi ngoloh jari. Sekedar informasi, berikut ini adalah benda-benda yang telah masuk ke sistem pencernaannya sampai ke defekasi: isi steples, telur kecoa, kertas, cuilan karet cashing hape, rambut, benang. Itupun lantai udah dipel sesering mungkin dan sebisa mungkin si bayik ada di dalam pengawasan. Pokoknya, kalau bayi udah mulai bisa megang benda-benda kecil, apalagi udah mulai merangkak juga, waspadalah! Keep the floor clean se clean mungkin.

Kapan mulai tengkurap? Umur 3 bulan. Kadang masih berat ngangkat kepala, tapi dia adalah seorang pejuang gigih.

Kapan mulai duduk sendiri? Umur 6 bulan. Rasanya terharu sekali melihat prosesnya dari tengkurap lalu menungging dan membalik untuk meletakkan pantatnya sampai akhirnya bisa duduk.

Kapan mulai merangkak? Umur 7 bulan dia mulai merangkak. Awalnya hanya serangkak-dua rangkak (opo meneh ini), lama-lama melesat bagai quda.

Kapan mulai rambatan? Mmm, lupa. Sepertinya mulai umur 8 bulan.

Kapan mulai berdiri? Hanun mulai berdiri umur 10 bulan. Bukan berdiri tegak ya, tapi berdiri sedetik dua detik trus jatuh.

Kapan mulai melangkah? Hanun mulai melangkah umur 11 bulan. Satu langkah, dua langkah, trus jatuh.

Kapan mulai lancar jalan? Hanun mulai bisa berjalan umur 12 bulan atau setahun. Dia sangat suka berjalan, apalagi di tanah lapang. Dia juga suka berjoged kalau mendengar musik.

Kapan mulai tumbuh gigi? Nahh, untuk yang anak bayinya udah umur setahun tapi belum tumbuh gigi, jangan khawatir ya pak buk! Nih Hanun baru tumbuh gigi usia satu tahun. Tumbuhnya pun di bawah, lalu di atas, lalu di bawah, lalu di atas….sesuka gigi gitu. Namun dengan lamanya tumbuh ini ada hikmahnya, yaitu menyelamatkan nenenku dari gigitan kuatnya, huhu. Untung aja si gigi gak tumbuh dari dulu, bisa-bisa aku merasakan keperihan gigitan lebih lama juga.

Kapan mulai bicara? Lupa. Seingetku dari 10 bulan Hanun sudah bisa bilang “maem maem maem” saat ingin nenen. Dan sekarang di usia 14 bulan, perbendaharaan katanya adalah “maem, mimik, minum, aong (kucing), mamak, bapak, ibok (ibuk), yayah (ayah), bebek, aik (jarik), jatuh, cecak, pepu (lampu), bobok, dada”. Dia juga mulai menirukan apa yang diucapkan dan dilakukan orang tua. Nah, karena itu, sebagai orang tua janganlah bertingkah dan bersikap yang buruk eaa.

Kapan mulai paham instruksi? Umur setahun dia paham saat diminta untuk dada, untuk kedip, untuk cium, untuk bobok, untuk kesana, untuk ke sini. Kadang aku terheran-heran, siapa yang ngajari kok bisa gitu. Trus kupikir-pikir lagi, kan dia punya otak yang terus berkembang. Jadi ya, masya Allah, subhanallah. Semua karena Tuhan.

Mm, mungkin segitu dulu. Sekarang Hanun sedang tidur. Dia tidur awal supaya besok bisa bangun awal dan bisa melakukan aktifitas sehari-hari (termasuk tidur) dengan lebih fresh!

Raihanun

Cerita Popok Cinun


Sudah lama aku tak memanggilnya “Cinun”. Seringnya hanya Nun saja, dan kadang Nyun, Ninun, Dudutt. Dan sudah lama pula aku nggak nulis, ya Allah. Terlalu banyak hal yang lewat begitu saja tanpa terdokumentasikan. Baiklah, saat ini yang masih hangat di ingatanku adalah tentang popok. Jadi aku akan menulis tentang popok.

Popok kain atau popok sekali pakai? Semua ada plus minus dan suka dukanya.

Sebelum Hanun lahir, yang kupersiapkan adalah bertumpuk-tumpuk popok kain biasa (yang selembar tipis itu lho). Yang 6 biji aku beli baru, yang setumpuk lainnya merupakan lungsuran dari keponakan-keponakan. Lumayan ngirit bangett. Dan apa yang terjadi? Seminggu pertama setelah Hanun lahir, aku dan suamiku bertahan dengan popok tsb. Sebenarnya, lebih tepatnya suamiku yang bertahan, secara beliau adalah petugas perpopokan. Setiap hari ada sekian helai kain popok yang terkotori oleh pipis dan pup si bayik. Dan begitulah, setiap pup atau pip, yang kotor/basah bukan popoknya saja, tapi kain alasnya juga. Hasilnya, tiap hari cucian banyaaak. Alhamdulillah pak suami sangat semangat nyucinya walau pernah sekali merasa kesusahan lantaran pup Hanun susah dibersihkan. Saat itu pupnya masih yang hitam gulali atau disebut mekonium. Itu memang superlengket ya, gaes. Tapi lama-kelamaan kadar kelengketannya menurun kok, mulai menjadi pup bayi yang sudah beradaptasi dengan dunia fana ini.

Lalu? Lalu Hanun sempet diterapi sinar karena kadar bilirubinnya lebih dari normal. Kala itu Hanun berusia satu minggu. Nah, pas diterapi itu, Hanun dipakein popok sekali pakai sama perawatnya. Semua bayi yang dirawat dipakein pospak. Dan kupikir-pikir, pakai pospak enak juga. Gak harus bentar-bentar ganti popok bayi yang menyebabkan ngganggu tidur mereka, dan gak harus nyuci berjuta-juta helai kain setiap hari. Dan, taraaa! Mulai saat itu Hanun beralih menggunakan pospak! Yey! Akhirnya para popok kain itu tak terpakai lagi untuk membungkus bokong imutnya. Tapi mereka tetap berjasa sbg lap kala Hanun gumoh atau kala mik susunya blepotan. Makasih ya, pok.

Lalu, apakah semuanya baik-baik saja? Tidak juga. Bulan demi bulan berlalu. Hari demi hari kulewati. Pospak demi pospak kubuang. Sebagai seorang yang sok peduli dengan lingkungan dan keadaan ekonomi keluarga, aku merasa dzolim karena dalam satu hari aku memproduksi sampah pospak cukup banyak, sekitar 4-7 sehari, s e t i a p   h a r i. Dan rasanyapun nggak enak pas pak tukang sampah ngangkutin sampah dan harus menghirup aroma pesing-pesing bauk dari popoknya Hanun, hihi. Dari perasaan-perasaan itulah, aku mantapkan diri untuk memakaikan Clodi (cloth diaper) yang bisa menampung beberapa kali pipis. Kapan aku mulai memakaikan clodi? Hanun umur setahun, buk! Hwaa, telat banget yak. Dulu sudah punya dua clodi, tapi nggak konsisten makainya. Dan berkat hasil chat dengan mbak Hartini, seorang pejuang popok utk newbornnya, aku jadi tersemangati lagi untuk menggunakan clodi. Makasih ya, Mbak.

Mulailah aku nyari-nyari clodi di aplikasi belanja aye aye. Dengan berbagai pertimbangan (harga, review), aku memutuskan untuk membeli clodi merk Babyland. Saat itu aku nemu yang harganya Rp49.000 bentuk pocket dengan snap, sudah include dengan 2 insert. Itu harganya lumayan murah seribu-limaribu daripada yang di toko lainnya. Cus lah, beli lima dengan motif netral (nggak bisa milih motif per item).

Dan, sampailah pesananku. Motifnya lucu-lucu banget (lucunya perempuan tu artinya imut/indah/bagus). Bahannya lembut, insertnya lebar dan lumayan tebal. Aku cukup merasa senang dengan produk tsb. Pas dipakaikan pun nampak nyaman walaupun agak nggedebol dipandang mata. Nggedebol adalah bokongnya kayak nggak singset gitu.

Nah, dengan modal 5 clodi baru dan 2 clodi lama, aku mulai meninggalkan pospak untuk harian di rumah. Lumayan hemat, loh! Dan aku jadi lebih rajin nyuci karena hanya punya 7 clodi di mana 2 clodi lamanya cepet banget rembes pipisnya. Nyuci clodi doang kan nanggung, jadi tiap hari aku juga nyuci baju-baju harian. Hasilnya, gak ada baju kotor yang numpuk dan beranak pinak. Yey!

Setelah jalan beberapa hari, aku memutuskan untuk menambah koleksi clodi. Aku pesan satu clodi merk Pempem dengan satu insert litty dan dua merk Ztwo dengan masing-masing 2 insert katun fleece. Dan taraa, datanglah mereka. Yang dua merk ini lebih singset dibandingkan Babyland. Tapi Babyland tetep yang paling alus adem bahan outernya. Yang Ztwo malah outernya agak kresek-kresek kaku. Mereka (Pempem dan Ztwo ini kayaknya nggak akan kepakai lama karena ternyata sizenya lebih kecil dibanding Babyland, dan Hanun udah setahun lebih, mungkin harusan beli size yang utk toddler atau gimana. Tapi pikirku, ntar kalau udah dianggap toddler kan pengennya Hanun udah mulai toilet training. Sekedar keinginan.

Jadi, kesimpulannya adalah. Dari bahan dan ketahanan bocor, aku suka sama Babyland. Dari kesingsetan (apasih), Pempem dan Ztwo lebih pas dan enak dipandang. Oiya, Pempem itu harganya 60.000an dan Ztwo aku dapetnya 40.000an. Jadi memang utk Ztwo aku nggak expect too much, tapi ternyata lumayan juga dengan harga segitu. Untuk Pempem, memang harganya kacek ya. Bahannya nyaman juga, cuma agak kekecilan..ya karena belinya telat.

Gitu aja. Semoga para keluarga clodi ini bisa menemani Hanun sampai dia siap untuk lepas dari penampung pipis jenis apapun. Semoga mereka tetap awet dan bisa dipakai untuk adek-adeknya Hanun kelak, aamiin. Sungguh, clodi adalah solusi untuk berhemat, mengurangi produksi sampah, dan mengusir malas mencuci! Semangat, pejuang popok!

 

Raihanun

Mars Cinun Cinun


Tulisan kali ini akan lumayan unfaedah banget karena aku akan menulis bait-bait indah yang tercipta seiring waktu berjalan sedari kedatangan Hanun di dunia yang penuh nafsu membara ini.

Jadi, aku dan suamiku bukanlah tipe orang tua yang pintar ‘ngudang bayi’ atau berceloteh/ bernyanyi untuk bayi. Paling mentok, suamiku akan berucap, “Anak e sinten to niki? Anak e sinten to niki?” (anak siapa sih ini), yang pasti akan kusahut, “Ya anakmu to, Yah, mosok kayak gitu ditanyain, sih?”. Kalau sudah begitu, Hanun hanya bisa ndomblong dan pura-pura tidur. Oleh karena keterbatasan ide ‘ngudang’, kamipun tak sengaja menciptakan beberapa nyanyian-nyanyian kecil indah sekali. Apa sajakah itu? Here we go!!

Nyanyian saat mau mandi (dari newborn sampai sekarang):

Mandi, mandi, sama Bu Siwi, yang baik hati, suka memberi, memberi ASI, untuk Mbak Hanun, yang cinun cinun!!

Nyanyian saat mau menidurkan (saat newborn) dan nyanyian saat nggodain Hanun (sampai sekarang):

Cinun Cinun! Anak Bu Siwi, lucu sekali. Cinun Cinun! (dan dibaleni dari awal dst)

Nyanyian kapan saja:

Kinting kinting, dut! Bayi jedudut! Anak Bu Siwi, jedudut sekali!

Oh ya, ketiga lagu itu terlalu bu-siwi-sentris karena memang mereka tercipta dari lubuk hatiku terdalam. Namun, suamiku pun menciptakan atau paling tidak dia mencoba aransemen ulang beberapa lagu, seperti:

Nyanyian saat mau menidurkan Hanun (newborn):

Tak gendong kemana-mana. Tak gendong kemana-mana. Asek! Asek!

(Dinyanyikan sambil membawa Hanun dengan kedua tangan diganjal bantal (seperti membawa bendera pusaka) sambil goyang poco-poco pelan).

Nyanyian krik-krik sewaktu-waktu #1:

Ndang ndang dut! Gembelo ela elo! Hanun ngentut! Ditembak raja….(lupa)

Nyanyian krik-krik sewaktu-waktu #2:

Cimidut, Cimidut! Cimi dut dut dutt!

Lalu, kami pun sering melontarkan ucapan “kakek nenek” di akhir beberapa lagu yang kami nyanyikan. Intotasinya adalah seperti di lagu trio kwek kwek. Contohnya seperti ini:

…memberi ASI. Untuk Mbak Hanun. Yang cinun cinun……………Kakek Nenek!

…satu dua tiga, sayang semuanya…………..Kakek Nenek! (mekso beut)

Hari ini memang bait-bait ini terdengar sedikit konyol, tapi beberapa tahun kemudian, Hanun akan merasa bahwa orang tuanya memang konyol. Ah enggak juga ding, Nun. Bersyukurlah karena ayah dan ibumu adalah orang-orang ceria yang mampu menyimpat rapat segala kegelisahan dan cukup kau tahu segala kegembiraan. Kelak, jadilah orang seperti ayahmu yang selalu ceria dan penuh semangat, dan seperti ibumu yang selalu berusaha melucu walaupun memang sangat lucu!